Abstrak
Pada masa prasekolah, anak sudah dapat menemukan bahasa-bahasanya dalam berkomunikasi. Seiring bertambahnya umur, maka perkembangan bahasanya juga bertambah. Anak-anak harus sering dilatih kemampuan berbahasanya bagi perkembangan bahasa Indonesia. Bahasa ibu mempunyai peranan penting dalam perkembangan bahasa Indonesia, karena anak terlebih dahulu mengenal dan menggunakan bahasa ibu dalam berkomunikasi.
Kata Kunci: Anak Prasekolah, orang tua, lingkungan, bilingualisme
A. Pendahuluan
Sekarang ini bahasa gaul atau yang kita kenal sebagai bahasa prokem telah mendominasi bahasa pada anak-anak. Mereka lebih sering menggunakan bahasa gaul dalam berkomunikasi daripada menggunakan menggunakan bahasa ibu, terlebih bahasa Indonesia. Pada umumnya, mereka hanya mengetahui apa yang mereka ucapkan ketika berkomunikasi, itulah bahasa Indonesia, bahkan mereka sering mengaitkan antara bahasa ibu dengan bahasa Indonesia. Mereka mengganggap benar, ketika mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ibu dan dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan ragam tidak formal.
B. Arti Bahasa bagi Anak
Bahasa merupakan bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang berfungsi sebagai alat komunikasi. Dengan bahasa, manusia dapat mengungkapkan maksud dan fikirannya kepada orang lain.
Bahasa merupakan tanda atau simbol-simbol dari benda-benda, serta merujuk pada maksud-maksud tertentu. Kata-kata, kalimat, dan bahasa selalu menampilkan arti-arti tertentu (Kartini Kartono, 1990: 47). Bahasa tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Elizabeth B. Hourlock mengungkapkan, anak prasekolah dimulai pada umur 2 tahun sampai 6 tahun. Dalam hal ini, keterampilan berbahasa khususnya berbicara, menjadi sarana yang paling tepat untuk perkembangan bahasa Indonesia pada anak prasekolah.
Menurut Elizabeth B. Hourlock, selama masa prasekolah, anak-anak memiliki keinginan yang kuat untuk belajar berbicara. Hal ini disebabkan karena dua hal. Pertama, belajar berbicara merupakan sarana pokok dalam sosialisasi. Kedua, belajar berbicara merupakan sarana untuk melatih kemandirian. Dengan berbicara, anak dapat mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Komunikasi yang intensif antara anak dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya, sangat berpengaruh terhadap kemampuannya dalam belajar berbahasa. Anak-anak dapat menemukan kosa kata baru dari apa yang telah didengarnya.
Tangis bayi dan anak, juga merupakan bentuk bahasa, yaitu bahasa yang pertama dipakai untuk menyampaikan isi kehidupan batiniahnya. Dengan bertambahnya umur anak, bahasanya semakin berkembang pula (Kartini Kartono,1990: 126).
C. Perkembangan Bahasa pada Anak Prasekolah
Clara dan William Stern (Zulkifli L, 1938: 47) ilmuwan bangsa Jerman, membagi-bagi perkembangan bahasa menjadi empat masa.
- Kalimat satu kata: satu tahun sampai dengan satu tahun enam bulan
Dalam masa ini, anak cenderung mengucapkan pengulangan suara. Contoh: ma-ma, mi-mi (artinya saya mau minum) (Zulkifli L., 1938: 47). Dalam hal ini, anak cenderung didorong keinginan kuat untuk belajar berbicara. Dia ingin mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya dan apa yang menjadi keinginannya.
Pada masa ini sering disebut sebagai “Masa kalimat satu kata”, karena anak-anak hanya mengungkapkan sepatah kata untuk menyatakan keinginannya.
- Masa memberi nama: satu setengah sampai dengan dua tahun
Pada masa ini, anak bersifat kritis tentang apa yang tidak diketahuinya. Dia akan menanyakan tentang perihal atau benda yang tidak diketahuinya. Anak juga akan memberikan nama terhadap benda-benda yang baru diketahuinya.
- Masa kalimat tunggal: dua tahun sampai dengan dua setengah tahun
Pada masa ini, bentuk bahasa dan kalimat anak, semakin baik dan sempurrna. Anak telah menggunakan kalimat tunggal. Sekarang dia mulai menggunakan awalan dan akhiran yang membedakan bantuk warna bahasanya (Zulkifli L, 1938: 47).
- Masa kalimat majemuk: dua tahun enam bulan dan seterusnya
Pada masa ini, anak dapat mengungkapkan pendapatnya dengan menggunakan kalimat majemuk. Anak sering menanyakan kenapa sesuatu itu bisa terjadi dan apa sebabnya. Dalam hal ini, dia tidak benar-benar ingin kejelasan dari suatu hal atau peristiwa yang masih asing baginya.
Berdasarkan pemaparan perkembangan bahasa di atas, kita dapat mengetahui apa dan bagaimana perkembangan bahasa pada anak. Orang dewasa harus mau mengerti dan mendengarkan dari apa yang anak utarakan. Anak masih memerlukan bimbingan untuk perkembangan bahasanya. Semakin bertambah umur mereka, semakin bertambah pula perkembangan bahasa yang dimilikinya. Namun semua itu, tidak terlepas dari pengaruh orang tua dan orang-orang yang ada disekelilingnya.
Menurut Syamsu Yusuf (2006; 46), dalam bukunya Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, beliau membagi dua tipe perkembangan bahasa anak.
1) Egnocentric Speech, yaitu anak berbicara pada dirinya sendiri (monolog). Tipe ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berfikir anak yang pada umumnya dilakukan oleh anak-anak berusia 2 sampai 3 tahun.
2) Socialized Speech, yang terjadi ketika berlangsung kontak antara anak dengan temannya atau dengan lingkungannya. Perkembangan ini dibagi ke dalam lima bentuk: (a) adapted information, di sini terjadi saling tukar gagasan atau adanya tujuan bersama yang dicari, (b) critism, menyangkut penilaian anak terhadap ucapan atau tingkah laku orang lain, (c) command (perintah), request (permintaan) dan threat (ancaman), (d)questions (pertanyaan), dan (e) answers (jawaban). Tipe kedua ini, mengarah kepada pengembangan kemampuan penyesuaian sosial.
D. Pengaruh Orang Tua terhadap Bahasa pada Anak Prasekolah
Ada sebuah istilah yang mengatakan “Ibu adalah pendidik yang pertama dan utama”. Dari istilah tersebut, dapat kita ambil gambaran bahwa bahasa anak mencerminkan pendidikan orang tua terhadapnya. Anak tidak dapat belajar sendiri dari bahasa yang dia peroleh. Anak memerlukan bimbingan dan pengawasan yang ketat dari orang tua. Ketika anak baru lahir atau dalam usia 5 sampai 6 bulan, orang tua mengenalkannya dengan dua bahasa, yaitupapa dan mama. Orang tua memberikan pengertian kepada anaknya tentang sebutan untuk papa dan mama. Sejak saat itu, anak terus dikenalkan bahasa-bahasa dari kosa kata baru yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Ketika anak sudah mulai bersosialisasi dengan teman sebaya ataupun dengan lingkungannya, maka secara otomatis dia menemukan bahasa baru dari hasil sosialisasinya itu, kemudian bahasa itu dia bawa ke dalam rumah. Jika tidak ada penyaringan bahasa dari orang tuanya terhadap bahasa yang didapatnya, maka sangat memungkinkan bahasa yang kurang pantas bagi anak akan terserap ke dalam memorinya. Dalam waktu jangka panjang bisa saja anak menerapkan bahasa yang didapatnya dari hasil sosialisasinya itu.
Oleh sebab itu, pengontrolan yang dilakukan orang tua terhadap bahasa pada anak harus dilakukan secermat mungkin, agar bahasa-bahasa negatif yang dia peroleh dari hasil sosialisasinya itu tidak dapat terserap ke dalam memorinya. Orang tua juga harus memberikan contoh kepada anak dalam menggunakan bahasa yang baik. Baik itu bahasa ibu maupun bahasa Indonesia, agar bahasa yang dipakai anak akan terasa santun dalam bertutur, tidak hanya untuk masa kini, melainkan untuk masa ketika dia telah dewasa.
E. Peran dan Fungsi Bahasa Ibu bagi Perkembangan Bahasa Indonesia pada Anak Prasekolah
Ali (1995:77) mengatakan bahasa ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungan. Hal ini menunjukkan bahasa pertama (B1) merupakan suatu proses awal yang diperoleh anak dalam mengenal bunyi dan lambang yang disebut bahasa.
Bahasa ibu merupakan bahasa pertama yang anak kuasai, bahasa yang dipakai dalam penuturan sehari-hari dilingkungannya. Untuk bahasa ibu ini, anak tentu sudah menguasai berbagai macam kosa kata dalam berbicara, namun untuk penggunaan bahasa Indonesia, masih sangat sulit untuk digunakan dalam tindak tutur. Perkembangan dua bahasa ini sering kita sebut dengan bilingual.
Bilingual juga harus dilihat sebagai sesuatu yang berhubungan dengan budaya dan lingkungan sosial (Singgih D. Gunarasa, 2004: 87). Bahasa kedua akan dikuasai secara fasih apabila bahasa pertama (B1) yang diperoleh sebelumnya sangat erat hubungannya (khususnya bahasa lisan) dengan bahasa kedua tersebut. Hal itu memerlukan proses, dan kesempatan yang banyak. Kefasihan seorang anak untuk menggunakan dua bahasa sangat tergantung adanya kesempatan untuk menggunakan kedua bahasa itu. Jika kesempatan banyak, maka kefasihan berbahasanya semakin baik (Chaer, 1994: 66).
Dalam hal pemerolehan bahasa ibu (B1) anak sudah dikenalkan dengan budayanya, karena anak lebih dahulu menggunakan B1 dalam berkomunikasi. B1 di sini, lebih diarahkan kepada bahasa daerah yang anak gunakan dalam berkomunikasi.
Banyak cara yang dilakukan orang tua bagi perkembangan B2 pada anak. Mulai dari pembiasaan menggunakan B2 dalam berkomunikasi di lingkungan rumah, sampai pada pembiasaan menggunakan B2 di lingkungan sekolah atau di Taman Kanak-kanak. B2 dalam hal ini adalah bahasa Indonesia.
Peran dan fungsi B1 bagi perkembangan B2 pada anak sangat penting, karena anak akan lebih sering menggunakan B2 dalam berkomunikasi di lingkungan sekolah atau di tempat lain. Peran dan fungsi tersebut antara lain:
1) B1 dapat memberikan pemahaman tentang kosa kata yang baku dalam B2
2) B1 dapat memberikan pemahaman tentang kalimat yang tidak efektif dalam penggunaan B2
F. Pengaruh Bahasa Ibu bagi Perkemnangan Bahasa Indonesia pada Anak Prasekolah
Dalam dunia bilingualisme, ada dua hal yang bisa dikenal, yaitu balanced bilingual dan imbalanced bilingual. Balanced bilingual terjadi bila seseorang mempunyai kemampuan berbahasa yang setara untuk kedua bahasa yang dikuasainya, sementara imbalanced bilingual terjadi bila seseorang mengerti dan berbicara dalam kedua bahasa yang dikuasainya dengan lancar, namun dia lebih fasih atau lebih nyamam berbicara dengan salah satu bahasa (Singgih D. Gunarasa, 2004: 94).
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa anak dapat menguasai dua bahasa sekaligus, namun ada salah satu unsur bahasa yang labih dominan dalam berbicara. B1 memberikan pengaruh yang kuat bagi perkembangan B2. Anak harus terlebih dahulu mempelajari B2 dalam berbahasa. B1 dapat memberikan pelatihan-pelatihan yang intensif terhadap perkembangan B2, karena anak lebih dahulu menggunakan B1 dalam berbahasa. Pada anak prasekolah, ingatannya masih sangat kuat untuk mengingat dan memahami terhadap apa yang dia dapat dari pelatihan-pelatihan B2 dalam berbahasa.
DAFTAR PUSTAKA
Gunarasa, Singgih D. 2004. dari Anak sampai Usia Lanjut, Bunga Rampai Psikologi Perkembangan Jakarta: Gunung Mulia.
Kartono, Kartini. 1990. Psikologi Anak (Psikologi Perkembangan). Bandung: Mandar Maju
Yusuf, Syamsu. 2006. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung; Remadja Rosdakarya
Zulkifli L. 1938. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remadja Karya
Komentar
Posting Komentar