PEMBERDAYAAN
SISWA MI MELALUI DAKWAH ANAK ISLAM
PADA
MI AL-HIKMAH
Desa
Wanutunggal Kec. Godong Kab. Grobogan
A.
Pendahuluan
Madrasah yang merupakan salah satu
bentuk kelembagaan pendidikan Islam memiliki sejarah yang sangat panjang. Ia
memiliki akar historis yang agak berbeda dengan sekolah umum, jika sekolah umum
berakar dari sistem pendidikan barat modern, maka madrasah merupakan
pengembangan dari sistem pendidikan pesantren yang kemudian mendapat pengaruh
dari sistem pendidikan barat modern.
Dalam
perkembangannya adalah fenomena umum bahwa kualitas pendidikan di madrasah itu
dipandang lebih rendah dari sekolah umum. Citra ini diciptakan sendiri oleh
anak didik dan masyarakat. Dapat dilihat eksistensi ini pada banyak sekolah.
Anak- anak pintar yang belajar di sekolah, semuanya bermimpi agar bisa sekolah
yang tinggi, semua berkeinginan untuk melanjutkan di sekolah-sekolah unggulan,
atau bahkan sampai kuliah di perguruan tinggi favourite di kota-kota besar. Bila mereka gagal masuk di
sekolah-sekolah unggulan atau perguruan tinggi favourite, lalu mereka sudah merasa kemampuan otaknya lemah maka
dengan rasa enteng mereka memilih madrasah dan perguruan tinggi Islam, dan pada
akhirnya berkumpulah orang orang yang kultur dan percaya dirinya rendah belajar
di madrasah ataupun perguruan tinggi Islam.
Kondisi global yang penuh persaingan
dalam segala bidang mau tidak mau membuat madrasah ibtidaiyah yang bernaung di
bawah departemen agama harus ikut berkompetisi dalam persaingan tersebut.
Peningkatan kualitas madrasah ibtidaiyah dalam segala aspeknya baik itu
menyangkut kurikulumnya, sumber daya manusianya serta aspek-aspek yang lain
menuntut peran serta tidak hanya dari pemerintah tapi lebih dari itu adalah
peran serta dari masyarakat yang mengambil posisi terdepan dalam pendirian,
pengembangan, pemberdayaan juga sebagai pengguna jasa pendidikan di madrasah ibtidaiyah.
Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah yang
terletak di Desa Wanutunggal Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan juga tidak
lepas dari permasalan diatas. MI Al-Hikmah didirikan karena kondisi masyarakat
desa yang semuanya 100 % beragama islam namun nilai-nilai keagamaan hanya
menjadi simbul ritualitas misalnya kehadiran dalam kegiatan keagamaan yang
banyak namun perilaku masyarakat belum menggambarkan keislaman yang bagus.
B. Alasan Memilih Subyek Dampingan
Keberadaan MI Al-Hikmah tidak
bisa dilepaskan dari PAUD, sebelum keberadaan PAUD AL-Hikmah, semua anak yang
berusia 4-6 tahun belum bisa membaca menulis, apalagi membaca Al-Qur’an, mulai
bisa mengaji Al-Qur’an rata-rata diusia 11-12 tahun. Keberadaan PAUD sangat
membantu anak desa dalam belajar membaca dan mulai belajar mengaji al-qur’an
yang dimulai dengan belajar iqra’.
MI Al-Hikmah didirikan karena
keprihatinan akan kualitas pendidikan anak-anak yang tidak maksimal karena
kurangnya stimulasi otak sejak usia dini, sehingga anak-anak yang seharusnya
menurut perkembangan anak secara intelektual sudah bisa diajarkan tentang
banyak hal tapi tidak terpenuhi.
MI Al-Hikmah didirikan karena animo masyarakat akan pentingnya
pendidikan agama sejak dini. Hal itu terlihat dengan banyaknya jumlah siswa
yang ada di PAUD Al-Hikmah (satu yayasan dengan MI Al-Hikmah). Awal berdirinya
PAUD Al-Hikmah sempat diragukan masyarakat. Hal itu terlihat dari jumlah anak
didik yang masuk pada semester pertama pembelajaran yaitu hanya berjumlah 6
anak. Namun dengan berjalannya waktu semester selanjutnya anak didik jumlanya
bertambah yaitu 20 anak, tahun berikutnya ada 45 anak, anak didik tidak hanya
dari Desa Wanutunggal saja tapi juga dari desa sekitar yaitu Desa Pahesan,
Tungu dan Desa Manggar.
Bertambahnya
siswa tidak hanya dari banyaknya fasilitas permainan yang diberikan kepada
anak, tapi juga dari metode dan materi
pembelajaran. Pada tahun pertama (anak usia 4 tahun) diajarkan pengenalan lingkungan, huruf
(sesuai kurikulum pembelajaran PAUD) ditambah dengan pengenalan do’a untuk
kegiatan sehari-hari seperti Asmaul usna, do’a belajar, do’a bangun tidur, do’a
mau makan, do’a selesai makan, do’a masuk kamar mandi, do’akeluar kamar mandi,
do’a bepergian ditambah dengan hafalan
surat-surat pendek al-Qur’an, hadis pendek tentang perilaku kehidupan
sehari-hari.
Animo masyarakat yang cukup besar terhadap pendidikan agama
sejak dini tersebut, membuat pihak yayasan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah.
Hampir semua orang tua menyampaikan kepada kepala sekolah kalau anaknya setelah
lulus PAUD akan melanjutkan di MI Al-Hikmah.
Dengan alasan diatas, membuat pihak yayasan terpanggil untuk
melanjutkan pendidikan agama pada anak usia sekolah dasar yaitu dengan membuat
Madrasah Ibtidaiyah Namun dalam
perjalanannya MI di tahun pertama hanya mendapatkan 6 sisiwa, tahun kedua 14
siswa.
Dengan suksesnya sosialisasi tentang kemampuan anak PAUD
dalam publik speaking misalnya sambutan dengan membaca teks (menunjukkan bahwa
anak bisa membaca), baca asmaul husna, do’a-do’a dan hafalan surat-surat pendek
didepan umum (yang kemudian masyarakat tertarik untuk menyekolahkan di PAUD)
maka dikembangkan performance siswa MI melalui dakwah anak, agar masyarakat
tergugah dan tertarik dalam menyekolahkan anaknya di madrasah ibtidaiyah.
Disamping itu juga dapat menjelaskan kepada masyarakat akan keunggulan madrasah
dibanding sekolah dasar umum. Hal itu didukung oleh kemampuan dan keberanian
siswa untuk tampil didepan umum yang
dimiliki sejak di PAUD.
C. Kondisi Dampingan Saat ini
Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah terletak
di Desa Wanutunggal Kecamatan Godong Kabupaten Grobogan. Madrasah Ibtidaiyah
ini dari tahun berdirinya baru akan masuk tahun ke tiga pada Juli 2013. Lembaga
pendidikan yang terhitung masih baru ini tepat berada di tengah di wilayah
masyarakat Desa Wanutunggal dan jalan akses menuju madrasah sangat mudah.
Jumlah siswa tidak sesuai dengan output
PAUD/RA Al-Hikmah. Misalnya pada tahun 2011 jumlah yang lulus RA sebanyak 40
anak, yang masuk MI Al-HIKMAH hanya 6 anak, 2012 jumlah yang lulus RA sebanyak
30 anak, yang masuk MI Al-HIKMAH hanya 15 anak. Mereka lebih memilih SDN
dibanding MI, padahal mereka merasakan lulusan RA Al-Hikmah lebih berkualitas
daripada sekolah lain.
Kondisi madrasah secara umum juga cukup
memprihatinkan, sebagian besar memiliki banyak kekurangan baik guru, buku-buku,
sarana dan prasarana maupun fasilitas penunjang lainnya. Kekurangan tenaga guru
tidak hanya dari segi kuantitas, tetapi kualitas pun masih belum memadai.
Sedikitnya jumlah siswa MI disebabkan
keraguan masyarakat akan MI yaitu apakah bisa sampai lulus, masyarakat belum
banyak tahu akan keberadaan MI Al-Hikmah, MI dianggap seperti madin, yang
ijazahnya tidak bisa digunakan untuk melanjutkan jenjang sekolah lebih lanjut, sehingga
MI dianggap sebagai sekolah yang tidak bermutu. Kedua, tidak adanya
keterlibatan masyarakat dalam pengembangannya. Keempat, dalam pengembangan madrasah menghadapi
permasalahan mulai sarana dan prasarana pendidikan belum memenuhi standar, jumlah
guru kurang memadai, penempatan guru tidak merata, serta pembelajaran yang kurang efektif.
D. Kondisi
Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah yang di harapkan :
1.
Terjadinya
perubahan persepsi masyarakat akan madrasah ibtidaiyah. Masyarakat tidak lagi
menganggap madrasah ibtidaiyah sebagai sekolah yang tidak bermutu, namun
sebaliknya yaitu sekolah yang layak dan berkualitas bagi anaknya kedepan karena
anak tidak hanya mendapat bekal
pengetahuan tapi juga agama yang dapat menjadi bengkel moral, akhlaq bagi anak.
Madrasah bukan lagi pilihan kedua namun sebagai pilihan pertama bagi pendidikan
anak mereka
2.
Pembelajaran
di madrasah tidak lagi monoton tapi mengikuti perkembangan pembelajaran yang
aktif dan efektif, melibatkan semua siswa dan didukung oleh teknologi yang
memadai.
3.
Terciptanya
mekanisme informasi timbal balik antara masyarakat dan lembaga madrasah. Dengan
begitu, maka kebutuhan masyarakat akan
tersedianya informasi yang baik dapat terpenuhi.
4.
Keterlibatan
madrasah, pemerintah desa dan tokoh agama dalam pemberdayaan madrasah menuju
pendidikan yang berkualitas dan sesuai kebutuhan yang diharapkan masyarakat.
5.
Keterampilan
berdakwah dari siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah yang baik menimbulkan dampak
yang besar yaitu bukan hanya kekaguman masyarakat namun lahir sebuah kesadaran
tentang nilai-nilai pendidikan agama serta harapan besar untuk putra –putri
mereka menjadi anak yang berbudi luhur.
6.
Ketertarikan
masyarakat terhadap dakwah syiar Islam yang dilakukan siswa menunjukkan
tingginya minat mereka terhadap pendidikan agama di madrasah. Sehingga
menjadikan madrasah ibtidaiyah adalah tempat sekolah yang tepat bagi anak-anak
mereka yang ditunjukkan dengan bertambahnya jumlah siswa MI Al Hikmah.
E. Strategi atau Metode yang Dilakukan
Untuk
mewujudkan tujuan dari terciptanya minat yang tinggi pada madrasah dan rasa
peduli terhadap nilai-nilai agama dari kondisi masyarakat yang memiliki
kebutuhan pendidikan umum maupun agama maka perlu dilakukan usaha kongkrit
sebagai berikut metode dalam melakukan pemberdayaan siswa, yaitu melakukan :
1. Pendekatan kepada Kepala Madrasah dan Guru Madrasah
2. Pendekatan madrasah bersama komite
madrasah, pemerintah desa serta tokoh masyarakat
3. Pendekatan dengan wali murid
4. Pemilihan siswa dan pembuatan materi dan
pelatihan siswa MI Al Hikmah
5. Praktik
6. Output
Skema
Pelaksanaan Kegiatan
Gambar
1
D. Hasil Kegiatan
Mengingat
banyaknya jumlah persoalan yang dihadapi dalam pengembangan madrasah secara
nasional yang jelas dan memiliki komitmen tinggi terhadap aspirasi yang terus
berkembang dan berubah secara sangat cepat. Karena itu disamping kejelasan
rancangan, rencana pengembangan juga harus lentur terhadap kemungkinan
perubahan situasi dan kondisi. Dalam kaitan ini, kearifan rekayasa bagi
kegiatan yang tepat sasaran, merupakan persyaratan personil yang terlibat dalam
menejemen baik pada tingkat nasional maupun regional.
1.
Pendekatan kepada Kepala Madrasah dan Guru Madrasah
a. Mengundang Kepala Madrasah dan Guru
Madrasah dalam rapat pengembangan madrasah dan pemberdayaan siswa
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari
Minggu, 10 juni 2013 di MI Al-Hikmah, dihadiri oleh kepala sekolah dan semua
guru (baik PAUD, RA maupun MI) serta petugas tata usaha yang semuanya berjumlah
15 orang.
Hasil kegiatan ini terdapat permasalahan
yang dihadapi oleh MI Al-Hikmah yaitu Pertama, pendanaan. Kesederhanaan dalam proses
belajar mengajar di Madrasah Al-Hikmah adalah karena minimnya dana yang
dimiliki, seluruh siswa dibebaskan dari biaya apapun termasuk buku dan seragam.
Kedua sarana dan prasarana yang terbatas. Bangunan gedung yang dimiliki
juga terbatas yaitu hanya ada 3 ruang kelas, satu ruangan memanfaatkan ruangan
yayasan yang tidak terpakai, sementara 2 ruangan yang lain adalah bangunan
yayasan, disamping itu biaya operasional madrasah yang tidak sedikit semuanya seratus persen hanya didanai oleh
pendiri yayasan dan kepala sekolah.
Menanggapi problema ini, maka solusi
yang dilakukan adalah meminta pada pihak yayasan untuk segera mengajukan surat
izin operasional madrasah sehingga bantuan dana bos bagi siswa bisa membantu
biaya operasional dan pengembangan madrasah serta kemantapan masyarakat akan
masa depan Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah
b.
Melakukan
pelatihan pembelajaran aktif dan efektif kepada guru madrasah
Dilaksanakan pada pada jum’at, 16
juni 2013 yang diikuti oleh semua tenaga pengajar dan
pengurus Yayasan Al-Hikmah yang berjumlah 15 orang.
c.
Melakukan
pelatihan komputer antar guru madrasah
Pembelajaran komputer bagi guru yang belum menguasainya
dilaksanakan setiap jumat seusai jam pelajaran dengan mentor sesama guru yang
sudah menguasai komputer
d.
Melakukan
pelatihan dan pembekalan kepada guru akan pentingnya dakwah anak islam serta bagaimana menyusun materi dakwah
Kegiatan
ini dilaksanakan pada minggu, 23 Juni 2013, di MI Al-Hikmah dengan pemateri Hj.
Siti Hikmah Anas S.Pd, M.Si. pelatihan ini bertujuan membekali dan menggugah
guru akan semangat berdakwah dan menyiapkan generasi mendatang untuk berdakwah
ditengah masyarakat.
Selain
itu juga mengajarkan dan melatih anak untuk berdakwah dimasyarakat serta menyalurkan bakat dan minat anak dalam berdakwah terutama berpidato. Disamping itu, dakwah anak ini juga bisa
digunakan sebagai media dalam pemasaran madrasah ibtidaiyah al-hikmah agar
masyarakat bisa mengetahui akan kualitas madrasah dibanding dengan yang sekolah
yang lain. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat merubah persepsi masyarakat
tentang madrasah yang selama ini dianggap sebagai second class.
Dalam
membuat materi dakwah bagi anak, dibuat judul materi pidato yang biasa dihadapi dan dilakukan anak setiap
hari, gaya dan metode pengajaran juga khas anak seperti adab makan, adab masuk
kamar mandi, berbakti pada orang tua, dan lain-lain. Tema disesuaikan dengan
acara kegiatan. Misalnya perkawinan, khitanan atau pengajian bulanan dimasjid,
atau dimakam.
Hasil
dari pelatihan ini adalah pengetahuan guru akan dakwah dan bagaimana membuat
materi dakwah untuk anak, juga menggali kemampuan guru dalam bidang pembuatan
pantun, syair, maupun lagu-lagu yang digunakan dalam mendukung pidato/ ceramah
siswa, sehingga isi pidato siswa tidak
monoton, pada akhirnya pendengar/jama’ah
tertarik dengan penampilan siswa tersebut, tidak hanya penampilan namun juga
diharapkan isi/materi ceramah mudah diingat oleh masyarakat dan bisa menambah
pengetahuan bahkan bisa merubah masyarakat artinya dari tidak baik menjadi
baik, dari baik menjadi lebih baik.
e.
Mengembangkan
jenis dakwah anak islam yang bisa dikembangkan dimasyarakat baik melalui pidato
ataupun kegiatan lain misalnya lagu-lagu yang bermuatan dakwah yang bisa
dilantunkan setelah adzan di mushollah-mushollah oleh siswa MI Al-Hikmah.
Berkaitan dengan dakwah anak,
dilakukan beberapa hal sebagai berikut :
a. Memilih
siswa berdasarkan keunggulan keterampilan berpidato, membaca ayat Al Qur’an dan keluwesan dalam bahasa dan
mimic.
b.
Membuat materi pidato siswa yang sesuai dengan tujuan program kegiatan.
c.
Melatih siswa dalam keterampilan berpidato oleh guru madrasah
d.Menampilkan
hasil pelatihan kepada masyarakat dalam kegiatan masyarakat misalnya khitanan,
pernikahan dll
Memaksimalkan
sarana dan prasarana madrasah yang bisa digunakan dalam kegiatan dakwah anak
islam disekolah yang bisa diakses oleh masyarakat luas. Sarana dan prasarana
yang di miliki oleh Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah selama ini kurang
dioptimalkan. Kegiatan keagamaan siswa madrasah selama ini tidak banyak
diketahui oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan gedung madrasah ibtidaiyah
berada agak masuk setelah melewati pintu gerbang rumah ketua yayasan, sehingga apapun kegiatan
siswa tidak bisa diakses lansung oleh masyarakat, sehingga masyarakat tidak
tahu kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan oleh madrasah karena masyarakat
sulit mengaksesnya secara lansung. Hal ini sangat disayangkan karena Madrasah
Ibtidaiyah Al-Hikmah memiliki fasilitas atau sarana prasarana yang bisa
memudahkan masyarakat mengaksesnya termasuk dalam kegiatan dakwah anak.
f.
Menjadual
kegiatan dakwah anak islam dalam kegiatan sekolah
Dari hasil rapat dengan
kepala sekolah, guru menghasilkan jadwal kegiatan sekolah sebagai berikut :
|
NO
|
NAMA KEGIATAN
|
WAKTU
|
|
1
|
Membaca surat yasin sebelum mulai masuk pelajaran
|
setiap hari jum’at dengan menggunakan speaker
|
|
2
|
Membaca surat al-baqoroh
|
Setiap senin
|
|
3
|
Doa sholat dhuhah
|
Senin dan jum’at
|
|
4
|
Adzan, pujian dan qomat
|
Senin – kamis
|
|
5
|
“Indahnya berdakwah”
a.
Pembukaan
b.
Pembacaan ayat
suci al-qur’an
c.
Sholawatan
d.
Pidato/
ceramah
e.
Do’a
|
Setiap selasa minggu pertama setiap bulan.
|
2. Pendekatan kepada Kepala Madrasah, Guru Madrasah, Komite
Sekolah, Perangkat Desa dan Tokoh Masyarakat
a. Mengundang kepala madrasah, guru
madrasah, komite sekolah, pemerintah desa dan tokoh masyarakat
Kegiatan
ini dalam bentuk rapat koordinasi dengan mengundang kepala madrasah, guru
madrasah, komite sekolah, pemerintah desa dan tokoh masyarakat.
Hal ini maksudkan sebagai langkah awal dalam
mendekatkan guru, komite madrasah, tokoh masyarakat dengan madrasah ibtidaiyah
Al-Hikmah untuk bersama-sama mengembangkan madrasah agar masyarakat berminat untuk menyekolahkan
anaknya di Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah.
Rapat
koordinasi ini dihadiri oleh 30 orang, dilaksanakan pada minggu, 30 juni 2013,
bertempat di Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah. Yang menghasilkan kesepakatan dalam
mengembangkan dakwah di masyarakat melalui kegiatan dakwah anak yang berbentuk
pidato/cerama agama dan pujian serta dukungan dari semua pihak bagi murid yang
sudah berlatih dan siap ditampilkan.
b. Menyusun rencana kegiatan dakwah anak Islam dalam
kegiatan sosial kegamaan masyarakat yang
dikelolah pemerintah desa dan masjid.
Dalam
upaya ini, terumuskan kegiatan keagamaan
desa sebagai berikut :
Kegiatan
keagamaan dimasyarakat
|
NO
|
NAMA KEGIATAN
|
WAKTU
|
TEMPAT
|
|
1.
|
Pengajian minggu legian
|
Minggu legi
|
Masjid baitus shomad
|
|
2.
|
Peringatan maulid Nabi Muhammad
SAW
|
Bulan maulud/
|
Depan Masjid
|
|
3.
|
Peringatan isro’ mi’raj
|
Bulan Mei
|
Depan Masjid
|
|
4
|
Haul mbah wanuh[1]
|
Bulan juni
|
Makam mbah wanu
|
|
5
|
Pengajian menjelang bulan puasa
|
Bulan juli
|
Pemakaman umum
|
|
6
|
Pengajian minggu pahing
|
Minggu pahing setiap bulan
|
Rumah warga bergantian
|
|
7
|
Pengajian Halal Bi Halal
|
Bulan Syawal/agustus
|
Masjid Baitus Shomad
|
|
8
|
Pengajian tiap malam minggu
|
Setiap Sabtu
|
Masjid Baitus Shomad
|
3.Pendekatan Kepada wali murid siswa
Kegiatan ini dalam bentuk rapat koordinasi yang
dihadiri sekitar 50 orang, tidak hanya wali siswa MI tapi juga sebagian wali
siswa RA.
4. Praktek siswa
Disamping
melatih siswa dalam berdakwah juga mengkomunikasikan prestasi dan usaha peningkatan mutu yang
dilakukan oleh madrasah kepada masyarakat. Tak ada gunanya suatu
prestasi atau usaha perbaikan apabila tidak diketahui oleh masyarakat pengguna
jasa pendidikan madrasah. Banyak cara untuk mengkomunikasikan keberhasilan dan
usaha ini, tergantung pada lokasi dan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran. Keterampilan
berpidato yang bagus diharapkan dapat menjadi bagian dari pemasaran akan
kualitas Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah yang berbeda dengan sekolah yang lain.
Dengan kegiatan ini menunjukkan bahwa hasil dari sekolah di Madrasah Ibtidaiyah
Al-Hikmah sudah dapat dilihat dan dirasakan dalam waktu yang relatif singkat. Setelah siswa MI mendapatkan materi dan
pelatihan, maka mereka wajib menunjukkan performance
dalam kegiatan dakwah anak Islam melalui kegiatan sosial keagamaan yang ada di masyarakat.
Setelah melakukan
pelatihan pidato, siswa tampil dihadapan masyarakat dengan tema dan acara yang
berbeda. Penampilan siswa secara keseluruhan sangat menyakinkan dan mendapat
aplous atau tepuk tangan yang meriah dari masyarakat. Bahkan ada yang terharu
sampai menangis mendengar ceramah siswa tentang birrul walidain atau berbakti
pada kedua orang tua.
Feedback dari penampilan pidato siswa yang bagus adalah
komentar yang bagus dari pendengar, bahkan hampir semua siswa seusai tampil
mendapatkan amplop yang berisi uang dengan jumlah yang berbeda, kadang mendapat
Rp 50 ribu sampai Rp 300 ribu, jumlah uang tersebut bukan dari satu orang tapi
dari banyak orang, rata-rata perorang memberi Rp 5000-Rp 10.000 dengan tujuan
agar siswa semangat dalam berpidato, karena terharu dengan apa yang disampaikan
siswa dll.
Jika di siswa
tampil dalam acara pernikahan atau khitanan pada umumnya yang punya hajat
memberi amplop kepada siswa sebesar Rp 50 ribu bahkan siswa yang bernama
lu’luul maknun dalam waktu tiga bulan tampil sebanyak 6 kali, 3 dalam kegiatan yang berbeda dan
materi yang berbeda. Tabel berikut menjelaskan pelaksanaan kegiatan pidato yang
dilakukan oleh siswa Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah.
Tabel 3.5
Kegiatan pidato siswa dimasyarakat
|
NO
|
NAMA SISWA
|
TEMA’
|
ACARA
|
HASIL
|
|
1
|
Lu’luul
Maknun
|
Birrul walidain
|
Undangan
Diknas kec. Godong
|
Tampil
bagus, banyak yang terharu,tepuk tangan meriah, dapat beberapa amplop dari
audient
|
|
Adab makan
|
Minggu legian
|
Tampil
bagus, banyak yang terharu,tepuk tangan meriah, dapat beberapa amplop dari
audient
|
||
|
Baiti jannati (3 kali)
|
Pernikahan
|
Tampil
bagus, banyak yang terharu,tepuk tangan meriah, dapat beberapa amplop dari
audient
|
||
|
Halal bi halal
|
IRMAS Desa Wanutunggal
|
Tampil
bagus, banyak yang terharu,tepuk tangan meriah, dapat beberapa amplop dari
audient
|
||
|
2
|
Zahrah
|
Baiti jannati
|
Pernikahan
|
Tampil
bagus, tetangga heran karena zahra sblmnya dikenal
|
|
3
|
Hilda
Falihna
|
Birrul walidain
|
Houl
mbah wanu
|
Tampil
bagus, banyak yang terharu, dapat
amplop dari audien
|
|
Birrul walidain
|
Undangan
Diknas kec. Godong
|
Tampil
bagus, banyak yang terharu,tepuk tangan meriah, dapat beberapa amplop dari
audient
|
||
|
4
|
Moh.
Yasin
|
Mewujudkan keluarga Bahagia
|
Pernikahan
|
Tampil
bagus, tepuk tangan meriah
|
|
5
|
Hidayatul
Kamilah
|
Oleh-oleh kematian
|
Pengajian dimakam menjelang puasa
|
Tampil
bagus, tepuk tangan meriah
|
|
6
|
Nada
Nida
|
Adab Makan
|
Minggu
legian
|
Tampil
bagus, tepuk tangan meriah
|
|
7
|
Rofiul
Lubab
|
Adab Bertetangga
|
Peringatan isro’ mi’raj
|
Tidak
bisa tampil
|
|
8
|
Moh.
Garin
|
Obat Hati
|
Peringatan maulid nabi
|
Tampil bagus, tepuk tangan meriah
|
|
9
|
Cindy Alfi Malika
|
Adab Ke kamar Mandi
|
Minggu
Legian
|
Tampil bagus, tepuk tangan meriah
|
Mengkomunikasikan prestasi dan usaha peningkatan mutu yang
dilakukan oleh madrasah kepada masyarakat. Tak ada gunanya suatu prestasi atau
usaha perbaikan apabila tidak diketahui oleh masyarakat pengguna jasa
pendidikan madrasah. Banyak cara untuk mengkomunikasikan keberhasilan dan usaha
ini, tergantung pada lokasi dan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran.
Keterampilan berpidato yang bagus
diharapkan dapat menjadi bagian dari pemasaran akan kualitas Madrasah
Ibtidaiyah Al-Hikmah yang berbeda dengan sekolah yang lain. Dengan kegiatan ini
menunjukkan bahwa hasil dari sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah sudah
dapat dilihat dan dirasakan dalam waktu yang relatif singkat. Setelah siswa MI mendapatkan materi dan
pelatihan, maka mereka wajib menunjukkan performance
dalam kegiatan dakwah anak Islam melalui kegiatan sosial keagamaan yang ada di masyarakat.
Setelah melakukan pelatihan pidato,
siswa tampil dihadapan masyarakat dengan tema dan acara yang berbeda.
Penampilan siswa secara keseluruhan sangat menyakinkan dan mendapat aplous atau
tepuk tangan yang meriah dari masyarakat. Bahkan ada yang terharu sampai
menangis mendengar ceramah siswa tentang birrul walidain atau berbakti pada
kedua orang tua.
Feedback dari penampilan pidato siswa yang bagus adalah
komentar yang bagus dari pendengar, bahkan hampir semua siswa sesai tampil
mendapatkan amplop yang berisi uang dengan jumlah yang berbeda, kadang mendapat
Rp 50 ribu sampai Rp 300 ribu, jumlah uang tersebut bukan dari satu orang tapi
dari banyak orang, rata-rata perorang memberi Rp 5000-Rp 10.000 dengan tujuan
agar siswa semangat dalam berpidato, karena terharu dengan apa yang disampaikan
siswa dll.
Jika di siswa tampil dalam acara
pernikahan atau khitanan pada umumnya yang punya hajat memberi amplop kepada
siswa sebesar Rp 50 ribu bahkan siswa yang bernama lu’luul maknun dalam waktu
tiga bulan tampil sebanyak 6 kali, 3
dalam kegiatan yang berbeda dan materi yang berbeda. Tabel berikut menjelaskan pelaksanaan
kegiatan pidato yang dilakukan oleh siswa Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah.
C.
Kesimpulan
1.
Pemberdayaan
siswa MI melalui kegiatan dakwah anak islam
dapat membantu Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah dalam menjalin kerjasama
dan hubungan yang harmonis dengan pemerintah desa dan tokoh agama dalam
masyarakat serta meningkatkan kualitas madrasah melalui pelatihan dan workshop.
2.
Mekanisme
informasi timbal balik yang tercipta antara masyarakat dan lembaga madrasah.
Dengan pemberdayaan siswa melalui dakwah anak, masyarakat bisa tahu banyak akan madrasah ibtidaiyah secara lansung.
3.
Keterlibatan
madrasah, pemerintah desa dan tokoh agama dalam pemberdayaan madrasah menuju
pendidikan yang berkualitas dan sesuai kebutuhan yang diharapkan masyarakat.
Sehingga harapan kembalinya marwah madrasah yang baik tercapai.
4.
Kegiatan
dakwah anak islam berhasil merubah image,
persepsi masyarakat yang salah tentang madrasah ibtidaiyah yang dianggap
sebagai sekolah yang tidak bermutu, tidak dapat melanjutkan sekolah lebih
lanjut serta sekolah yang tidak berkelas.
5.
Keterampilan
berdakwah dari siswa-siswi madrasah Ibtidaiyah yang baik menimbulkan dampak
yang besar yaitu bukan hanya kekaguman masyarakat namun lahir sebuah kesadaran
tentang nilai-nilai pendidikan agama serta harapan besar untuk putra –putri
mereka menjadi anak yang berbudi luhur.
6.
Pemberdayaan
siswa madrasah ibtidaiyah melalui dakwah anak islam, belum mampu menambah
jumlah siswa MI Al-Hikmah. Hal itu bukan karena masyarakat tidak berminat untuk
menyekolahkan anaknya di MI Al-Hikmah namun disebabkan beberapa faktor yang
lain yaitu adanya ketidaksenangan fihak-fihak tertentu dikarenakan faktor iri
hati karena tidak bisa seperti pemilik yayasan, sehingga menyebarkan isu magis
yang membuat masyarakat takut untuk menyekolahkan anaknya disana, dan kemudian
isu tersebut dimanfaatkan oleh pihak SD untuk mengambil keuntungan. Untuk itu
perlu dilakukan pendekatan khusus pada masalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul
Rachman Shaleh, Pendidikan Agama dan Keagamaan, (Jakarta: PT Gemawindu
Pancaperkasa, 2000
Arifin, Muzayyin, Pendidikan
Islam dalam Arus Dinamika Masyarakat: Suatu Pendekatan Filosofis,
Pedagogis, Psikososial, dan Kultural. Jakarta : Golden
Terayon Press, 2000.
Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam,
Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta : Logos
Wacana Ilmu, 1999.
Alma, Buchori. 1992. Manajemen
Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung: Alfabeta Faisal, Sanafiah,
dalam Tim Dosen FIP IKIP Malang, Pengantar Dasar-Dasar
Kependidikan. Surabaya : Usaha Nasional, 1988.
Converse, Paul D.; Huegy, Harvey W.; and Mitchell,
Robert V. Elements of Marketing. 1958. Englewoods Cliffs. NY: Prentice
Hall.
Enis, Ben M. 1974. Marketing
Principles. California: Goodyear Publ. Coy, Inc.
Edward
Sallis, 2010. Total Quality Management In Education : Manajemen Mutu
Pendidikan, Terj. Ahmad Ali Riyadi dkk, Yogyakarta : Ircisod
Fajar, Malik, Madrasah dan Tantangan
Modernitas. Cet. I; Bandung : Mizan, 1998.
Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu
Pendidikan. Cet. I; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,
1999.
Mulyasa,
Pedoman Manajemen Berbasis Madrasah,
Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam
H.A.R.
Tilaar, 2000. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta : Rineka Cipta
H.A.R.
Tilaar, 2003. Kekuasaan dan Pendidikan, Magelang : Indonesia Tera
Jerome
S. Arcaro, 2007. Pendidikan Berbasis Mutu : Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata
Langkah Penerapan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Mastuhu,
2003. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional Dalam Abad 21.
Yogyakarta : Safiria Insania Press
Muhaimin, 2007. Pengembangan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi,
Jakarta : PT. RajaGrafindo
Muhammad, Afif. Islam Mazhab Masa
Depan, Menuju Islam Non Sekterian. Cet. I;Bandung : Pustaka
Hidayah, 1998.
Mutakin, Awan. Studi
Masyarakat Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1977.
Oemar
Hamalik, 2007. Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya
Shadily, Hassan. Ensiklopedi Indonesia. Jakarta:
Ichtiar Baru Van Hoeve, 1993.
Soekanto, Soerjono dan
Soleman B. Taneko. Hukum Adat Indonesia. Cet.
III;Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1986.
Syam, Mohammad Noor, Filsafat
Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Cet.
I; Surabaya : Usaha Nasional, 1986.
Kotler, Phillip and Cox, Keith. 1984. Marketing
Management and Strategy. Englewoods Cliffs, NY: Prentice Hall, Inc.
[1] Mbah wanuh adalah nenek moyang yang babat alas
untuk desa wanutunggal, setiap tahun hari kematiannya diperingati dengan
menggelar pengajian, yang dihadiri oleh seluruh masyarakat desa. Makam mbah
wanuh terletak didesa wantnggal. Makam ini berdiri sendiri artinya disekitarnya
tidak ada makam orang lain, makam menyatu
dengan rumah warga.
Komentar
Posting Komentar